Kosim,
Orang Kebumen yang Menjadi Kapten Kapal LPG Terbesar di Dunia
Jangan bayangkan seorang kapten
kapal selalu berperawakan kekar, bersuara lantang dan kaku karena Kapten Kosim
cenderung kalem dan memiliki pembawaan santai.
Setidaknya itulah kesan singkat
yang saya tangkap ketika bersama sejumlah blogger Kompasiana menemuinya
langsung di atas kapal tempatnya bertugas di perairan laut Kalbut, Situbondo
beberapa waktu lalu. Saat itu ia mengenakan sandal ketika mengantarkan kami
menjelajahi beberapa ruang di kapal kekuasaannya. Sikap ramahnya terlihat dari
raut mukanya yang tenang saat berbicara. Intonasi bicaranya pun tidak sekaku
yang saya bayangkan mengenai sosok kapten kapal. Penekanan suara di beberapa
ujung kalimat seolah menunjukkan jika ia adalah orang Jawa.
Kapten
Kosim bukanlah nakhoda biasa dan jelas bukan orang sembarangan karena ialah
yang memimpin Pertamina Gas 2, pionir kapal LPG terbesar di dunia.
Kapten Kosim yang lahir di Kebumen, 5 Januari 1977 adalah lulusan Politeknik
Ilmu Pelayaran Semarang.Sebagai pemegang sertifikat pelayaran
Ahli Nautika Tingkat I (ANT I) Kapten Kosim memiliki kualifikasi untuk memimpin
sebuah kapal tanpa batasan berat dan alur pelayaran kapal. Tak heran jika ia
pun yang dipercaya untuk memimpin sendiri pelayaran Pertamina Gas 2 saat dibawa
dari tempat pembuatannya di Korea Selatan menuju Indonesia pada April 2014.
Sebagai
seorang Master atau Nakhoda, Kapten Kosim adalah pemimpin dan penanggung jawab
utama operasi Pertamina Gas 2. Sementara sebagai seorang kapten ia merupakan perwira tertinggi di Departemen Dek. Kapten Kosim membawahi 26 awak profesional
Pertamina Gas 2 yang terdiri dari officer,
engineer, oiler, boatswain, kadet dan beberapa awak lainnya.
Bukan hal yang mudah memimpin
sebuah kapal dengan dimensi panjang mencapai 226 meter dan lebar 36,6 meter.
Apalagi aktivitas utama Pertamina Gas 2 bukanlah berlayar seperti kapal-kapal
pada umumnya. Pertamina Gas 2 adalah kantung raksasa gas LPG untuk kawasan
Indonesia Timur. Dengan kata lain Kapten Kosim memimpin sebuah kapal yang
menjadi menjadi penyangga utama ketahanan gas LPG Indonesia.
Sebagai kapten kapal Pertamina,
Kapten Kosim memahami pekerjaannya tak hanya memimpin kapal tapi juga melayani
masyarakat pengguna LPG. Dan sebagai orang lapangan ia pun cukup paham dengan
fakta LPG yang saat ini digunakan masyarakat. Oleh karena itu ia sering merasa
miris dengan sikap sok tahu para politisi yang kerap menyerang kebijakan
Pertamina terkait gas LPG.
Peran vital Pertamina Gas 2
menuntut Kapten Kosim dan 26 awak Pertamina Gas 2 lainnya selalu siaga di dalam
kapal selama 9 bulan terus menerus. Memulai tanggung jawab sejak bulan April,
Kapten Kosim dan awak Pertamina Gas 2 baru akan “kembali ke darat” pada akhir
tahun 2014 nanti. Hal yang mungkin sulit dilakukan oleh orang biasa karena
harus berada di perairan laut dalam waktu yang lama dan bertanggung jawab untuk
sebuah pekerjaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Apalagi aktivitas
pemindahan LPG antar kapal yang melibatkan Pertamina Gas 2 berlangsung setiap
hari tanpa mengenal waktu. Pada 9 Oktober 2014, ketika menemui sejumlah blogger
Kompasiana dan jurnalis dari beberapa media, Kapten Kosim dan awak Pertamina
Gas 2 sedang menunggu kapal yang akan mengambil gas untuk dipasok ke daerah.
Sementara pada hari itu Pertamina Gas 2 baru saja menyelesaikan pemindahan gas
impor dari kapal Arab Saudi yang berakhir dini hari.
Dedikasi
Kapten Kosim terhadap pekerjaanya tersirat dari beberapa kalimatnya saat
menjelaskan seluk beluk LPG Pertamina. “Kadang rasanya
itu begini, pernah saya memimpin kapal lain mengirim langsung ke Indonesia
timur dan begitu sampai ternyata di sana sudah banyak masyarakat menunggu”. Begitulah penuturannya mengenai pengalaman memasok minyak dan
gas ke daerah terpencil. Terima kasih tak terhingga untuk Kapten Kosim dan para
awak Pertamina Gas 2.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar